14 Agustus 2008

facebook-ing

Pandangan saya menerawang jauh keluar ruangan kerja. Memperhatikan awan yang bergerak di langit, kemudian jalan yang kosong dan tanaman yang berada tepat di depan jendela. Untuk sesaat, saya menjadi bagian dari mereka, alam di luar sana. Menyatu melalui oksigen yang saya hirup dan dimensi yang kami bagi bersama.

Aktifitas pagi ini tidak terlalu mengekang karena saya pilih begitu, sehingga ada waktu bagi saya untuk menjelajahi jejaring raksas melalui aplikasi Facebook. Melihat dunia yang saya tinggalkan. Jauh sebelumnya, saya melihat dunia tersebut sebagai tempat yang bahagia. Tapi ternyata tidak begitu, dan kini saya kembali menjadi penonton dan berusaha memahami mengapa penghuni disana terlihat begitu senang.

Ada beberapa pertanyaan yang muncul sekarang. 'Kenapa saya begitu takut untuk mengakui siapa diri saya yang sebenarnya ?' Saya begitu terbiasa dibenci, disalahkan dan dipojokkan sampai saya lupa rasanya ada di posisi yang berbeda. Melihat ke belakang, selalu ada alasan untuk dibenci di rumah. NEM kurang jadinya masuk swasta, terlalu banyak menggambar, mencintai musik, NEM tidak 50 hanya 48, tidak mau masuk Taruna Nusantara, merokok, pacaran dengan si ini, berteman dengan musuh, salah menjawab, salah ini, kurang begini, salah mengambil sikap, kurang begitu, selalu ada alasan untuk dibenci. Sehingga selalu ada kata-kata 'Selama kamu begini, saya tidak akan menerima kamu'. Tapi 'begini' selalu berevolusi, sampai sekarang, sehingga dalam garis besar yang ada hanya 'saya tidak menerima kamu'. Akibatnya saya menjadi sangat paranoid dan defensif untuk 'kekurangan', dalam hal apapun.

I have hate in me and it is thick.

Saya ingin menjadi begini dan hanya begini. Saya tidak mengerti caranya memenuhi persyaratan orang lain karena 'begini' selalu berevolusi. Mungkin saya hanya mencari tempat saya di dunia ini, tempat dimana saya bisa berdiri dan diterima. Tempat dimana tidak perlu ada lagi yang dikeluhkan soal saya, dimana saya yang sekarang adalah 'cukup' dan tidak kurang.

Pandangan saya kembali ke layar komputer. Ada beberapa tabel yang perlu diisi. Aktifitas saya online, main basket dan ke kantor. Minat saya adalah ilustrasi, sastra, film, musik, masak. Acara TV favorit saya sekarang tidak ada. Film favorit, wah yang ini butuh waktu yang lama untuk mengisi karena daftarnya cukup panjang. Buku favorit saya masih Supernova karangan Dewi Lestari. Quote favorit saya sekarang adalah dari Rocky Balboa. Tentang saya adalah seorang pemerhati lingkungan dengan kecenderungan Bipolar. Hm. Menarik.

10 Agustus 2008

the air i breathe



Dewi Lestari akan menyebut hubungan saya dan film ini sebagai sebuah sinkronisitas. Tanpa banyak kata, i love this movie. Film ini menggambarkan dengan sempurna diri saya yang sekarang, bitter. Tapi tidak hanya itu, The Air I Breathe adalah cermin yang tepat untuk berkaca bagi semua orang.

Stellar cast, plot yang unik (sangat Korea-wi), dan naskah yang lebih tersirat daripada tersurat. 4 karakter tanpa nama yang diwakili empat unsur utama dalam hidup, menurut filosofi Cina berdasarkan promosinya ; Happiness, Pleasure, Sorrow, Love yang terbungkus jadi satu kehidupan. Lucunya, meski hanya Sorrow yang berkesan negatif, keempat karakter ini memiliki benang merah yang sama, bitter.

Meski memiliki kelemahan yang sangat jelas, yaitu tidak terasanya unsur klimaks, film ini sangat layak untuk dijadikan koleksi. Dan satu lagi, menurut saya ini adalah satu-satunya film dimana saya menyaksikan Brendan Fraser memainkan peran yang sangat sesuai. Tora Sudiro-nya Hollywood ini perlu dengan serius memikirkan jenis film yang pantas untuk ia mainkan dan berhenti menghabiskan hidupnya di jalur film komedi.

Two thumbs up. This is a highly recommended movie.

09 Agustus 2008

Perjalanan yang sia-sia

Sampai detik ini, sudah 27 tahun lewat sejak saya dilahirkan di bumi ini. Dan dengan sangat menyesal, saya harus jujur mengatakan bahwa saya tidak merubah apa-apa. Setelah lika-liku perjalanan, saya sekarang memiliki bipolar disorder akut, di batas kewarasan dan berstatus sebagai pegawai kontrakan BUMN dengan masa depan yang sangat dipertanyakan. Saya tidak menikmati hidup saya, dan lebih parahnya lagi saya membuat orang lain tidka bisa menikmati hidupnya sendiri. Apa yang membuat saya selalu lupa bahwa manusia itu adalah makhluk sosial ? Ada empat orang yang hidup di rumah ini tapi saya seperti selalu merugikan tiga yang lain. Ada setumpuk kewajiban yang harus saya perbuat, tapi saya selalu mempertanyakan hak saya.

Hidup seperti roda yang lepas untuk saya, dan saya selalu berada di belakang. Akibatnya rencana yang saya buat, yang saya inginkan, tidak pernah mendekati kenyataan. Yang terjadi adalah saya melihat arah roda itu berjalan dan membohongi diri saya sendiri bahwa itu adalah apa yang saya inginkan. Ada kalanya saya berusaha berhenti mengejar. Saya bahkan berhasil berhenti mengejar untuk sesaat, dan saya berjalan, meski pelan tapi pasti. Akan tetapi entah bagaimana roda itu selalu kembali melintasi saya dan saya kembali mengejarnya tanpa kompromi.

Hidup ini singkat, saya sadar. Harus dinikmati, memang. Apa yang membuat saya berusaha untuk diakui orang lain, saya tidak tahu. Saya selalu melakukan sesuatu untuk menyenangkan orang lain. Tapi di saat yang sama juga egois. Saya semakin lepas kendali dan semakin depresi. Saya mengerti bahwa tidak ada gunanya mengejar mimpi orang lain. Perusahaan bagus, gaji besar, memiliki rencana, dunia perminyakan dan energi, pangkat yang tinggi, keluarga yang baik, hidup yang terjadwal, uang kiriman yang bertumpuk-tumpuk dan bonus yang berlipat ganda. Bukan saya tidak mau, tapi itu bukan jalan saya.

Saya sungguh letih membohongi diri sendiri. Kenapa saya harus begitu takut kehilangan sesuatu ? Bukankah kita memang tidak memiliki apa-apa ? Dan bukankan dengan melepaskan justru kita memiliki dalam arti yang sesungguhnya ?

27 tahun, dan saya tidak pernah merasa hidup ini cukup. Dijalankan dengan cukup. Selalu kurang. Kurang. Kurang. Kurang terencana, mau dibawa ke mana ini semua ? Kurang banyak gajinya, lalu kami hidup pakai apa ? Kurang waras, kenapa tidak bisa menghargai kamu ? Kurang berpangkat, kurang elit perusahaannya, kurang merah darahnya, kurang gemuk, kurang memiliki kemampuan berpikir seorang laki-laki bergelar magister teknik, kurang berwibawa, kurang manis, kurang romantis, kurang bertakwa, kurang berbakti, kurang peduli, kurang ajar, kurang dan kurang dan kurang dan kurang.

Hati saya remuk redam sekarang. Jika saya mati hari ini, saya malu mempertanggungjawabkan bahwa hidup ini, 27 tahun ini saya gunakan untuk naluri dan membohongi diri sendiri. Naluri bertahan hidup, naluri biologis dan berusaha menjadi apa yang diinginkan orang lain. Tanpa ibadah, tanpa ada bekas ketuhanan di hati, hanya 5 huruf yang terketik di belakang label 'agama' dalam KTP.