Sampai detik ini, sudah 27 tahun lewat sejak saya dilahirkan di bumi ini. Dan dengan sangat menyesal, saya harus jujur mengatakan bahwa saya tidak merubah apa-apa. Setelah lika-liku perjalanan, saya sekarang memiliki bipolar disorder akut, di batas kewarasan dan berstatus sebagai pegawai kontrakan BUMN dengan masa depan yang sangat dipertanyakan. Saya tidak menikmati hidup saya, dan lebih parahnya lagi saya membuat orang lain tidka bisa menikmati hidupnya sendiri. Apa yang membuat saya selalu lupa bahwa manusia itu adalah makhluk sosial ? Ada empat orang yang hidup di rumah ini tapi saya seperti selalu merugikan tiga yang lain. Ada setumpuk kewajiban yang harus saya perbuat, tapi saya selalu mempertanyakan hak saya.
Hidup seperti roda yang lepas untuk saya, dan saya selalu berada di belakang. Akibatnya rencana yang saya buat, yang saya inginkan, tidak pernah mendekati kenyataan. Yang terjadi adalah saya melihat arah roda itu berjalan dan membohongi diri saya sendiri bahwa itu adalah apa yang saya inginkan. Ada kalanya saya berusaha berhenti mengejar. Saya bahkan berhasil berhenti mengejar untuk sesaat, dan saya berjalan, meski pelan tapi pasti. Akan tetapi entah bagaimana roda itu selalu kembali melintasi saya dan saya kembali mengejarnya tanpa kompromi.
Hidup ini singkat, saya sadar. Harus dinikmati, memang. Apa yang membuat saya berusaha untuk diakui orang lain, saya tidak tahu. Saya selalu melakukan sesuatu untuk menyenangkan orang lain. Tapi di saat yang sama juga egois. Saya semakin lepas kendali dan semakin depresi. Saya mengerti bahwa tidak ada gunanya mengejar mimpi orang lain. Perusahaan bagus, gaji besar, memiliki rencana, dunia perminyakan dan energi, pangkat yang tinggi, keluarga yang baik, hidup yang terjadwal, uang kiriman yang bertumpuk-tumpuk dan bonus yang berlipat ganda. Bukan saya tidak mau, tapi itu bukan jalan saya.
Saya sungguh letih membohongi diri sendiri. Kenapa saya harus begitu takut kehilangan sesuatu ? Bukankah kita memang tidak memiliki apa-apa ? Dan bukankan dengan melepaskan justru kita memiliki dalam arti yang sesungguhnya ?
27 tahun, dan saya tidak pernah merasa hidup ini cukup. Dijalankan dengan cukup. Selalu kurang. Kurang. Kurang. Kurang terencana, mau dibawa ke mana ini semua ? Kurang banyak gajinya, lalu kami hidup pakai apa ? Kurang waras, kenapa tidak bisa menghargai kamu ? Kurang berpangkat, kurang elit perusahaannya, kurang merah darahnya, kurang gemuk, kurang memiliki kemampuan berpikir seorang laki-laki bergelar magister teknik, kurang berwibawa, kurang manis, kurang romantis, kurang bertakwa, kurang berbakti, kurang peduli, kurang ajar, kurang dan kurang dan kurang dan kurang.
Hati saya remuk redam sekarang. Jika saya mati hari ini, saya malu mempertanggungjawabkan bahwa hidup ini, 27 tahun ini saya gunakan untuk naluri dan membohongi diri sendiri. Naluri bertahan hidup, naluri biologis dan berusaha menjadi apa yang diinginkan orang lain. Tanpa ibadah, tanpa ada bekas ketuhanan di hati, hanya 5 huruf yang terketik di belakang label 'agama' dalam KTP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar